Kamis, 06 Mei 2021

katekisasi pernikahan

katekisasi pernikahan atau sekolah sebelum menikah atau kegiatan pranikah adalah bimbingan kerohanian dari budaya kristiani sebelum benar disatukan menjadi sebuah keluarga yang sah dihadapan gereja dan Tuhan. budaya ini lambat laun juga ditirukan umat agama seberang dengan mewajibkannya sebagai syarat penikahan di agamanya dengan cara dan konsep yang 11-12. tidak menjadi masalah kalau sesuatu yang baik dan benar itu ditiru, apresiasi tentunya dengan kebijakan yang seperti itu. disamping banyak nilai positifnya tentu saja akan membuat kehidupan pasangan baru itu akan lebih mantap tentunya. 

dalam pengalaman penulis melewati tahap ini penulis sangat ingin jika tulisan ini akan bermafaat kepada khalayak umum bukan hanya untuk terkhusus keluarga kecil penulis juga. berikut point yang diberikan oleh ibu pendeta waktu itu dengan 3 kali pertemuan sebelumnya dalam 2 tempat yang berbeda dan nuansa yang berbeda.

pertemuan pertama, penulis bergabung dalam katekisasi bersamaan dengan 2 pasangan lainnya yang sudah melewati 2/3 perjalanan katekisasinya di gereja. karena bergabung pertama kali dengan pasangan yang sudah dapat materi sebelumnya, terpaksa kami adalah pasangan termuda yang langsung lompat materi terakhir yang sedang akan diajarkan kepada kami. yang akhir jadi awal, yang awal jadi akhir begitulah kira-kira ungkapan yang tepat dalam pengalaman katekisasi ini. materi yang pertama dibawakan adalah tentang reproduksi, yang mana diajarkan bukan sebagai bahan yang tabu, yang harus diketahui dan saling melayani antar individu pasangan dengan lawan pasangannya tersebut. diajarkan untuk merencanakan masa depan ingin berkeluarga berketurunan jumlah berapa, menggunakan alat kontrasepsi apa, dan mempersiapkan saat sang individu tersebut akan menjadi seorang ibu. dengan hati dan biologis yang harus dikendalikan dipersiapkan untuk menghadapi saat-saat waktu tersebut bagi seorang suami untuk bisa taat dan tidak selingkuh dan aneh-aneh. individu yang akan dibentuk menjadi seorang suami yang peduli terhadap istrinya, berani menemani saat melahirkan, berani mengambil bagian saat istri hamil dengan mengambil pekerjaan rumah untuk dikerjakan seperti mencuci, menyapu, mengepel, cuci piring, dll. masuk diakal pelajaran pertama diterima dan akan lanjut pertemuan katekisasi ke 2 dan ke 3 tidak dalam urutan waktu yang cepat / selang beberapa hari / minggu melainkan 1 kali periode dinas kerja di tanah rantau seorang karyawan swasta (2 bulan).

katekisasi ke dua, dilakukan di rumah ibu pendeta, dengan 1 pasangan baru yang juga akan melangsungkan pernikahan dalam waktu-waktu dekat. berbeda dengan kami yang juga masih maju mundur memilih 1 buah tanggal pastinya untuk pernikahan. dalam pertemuan ini diajarkan ibu pendeta untuk terbuka dengan masalah financial / keuangan. 2 pasangan muda ditantang dengan ibu pendeta untuk merencanakan keuangan selama menjadi keluarga. diberikanlah 1 kertas dan pulpen untuk menulis berpasang-pasangan mengenai perencanaan keuangan bulanan keluarga baru kami. saya dengan pasangan pun langsung menuliskan apa yang sudah kita latih sedari 5 tahun berpacaran yakni kewajiban-kewajiban bulanan seperti, biaya KPR rumah, biaya listri, biaya air, biaya pulsa, biaya untuk keluarga besarnya selama masih single dan biaya untuk entertain diri sendiri. dari kami tulis dengan mudah dan cepat dengan waktu yang cukup saat diberikan tantangan tersebut. menunggu pasangan satunya yang masih lama dan masih kelihatan masih ragu-ragu dalam merencanakan sampai dengan selesai. singkat cerita sudah selesailah pekerjaan kami sebagai calon keluarga baru dari ibu pendeta. makan dibukalah setiap kertas hasil kerja kami dan tidak diperlihatkan antar pasangan demi privasi dan previlage antar kami. karena tentunya pendapatan kami berbeda-beda dan tidak etis jika diumbar atau dibuka dalam forum tersebut. pada saat tersebut pasangan 1nya adalah kelihatan dari pasangan yang sudah berpunya / berada / mampu / kaya. terlihat dari mobil yang dibawa dan diparkir didepan rumah ibu pendeta saat kami telat masuk dan janjian karena belum tahu rumah beliau karena GPS yang salah ke rumah bidan / perawat / didaerah gps tersebut (dekat rumah beliau ibu pendeta). kembali ke kertas yang dibuka ibu pendeta mulai dijelaskan kekurangan apa yang kita rencanakan yakni yang mula-mula dan sangat mendasar dari kami umat percaya Tuhan Yesus adalah persepuluhan. jadi dalam ajaran keagamaan kami, diajarkan untuk memberikan sepersepuluh dari penghasilan kita selama 1 bulan. 10% besar lho, kalau di agama seberang ditulisnya 2,5%. iya berat loh ketika di tanya ibu pendeta kenapa ko tidak di tulis di awal kewajiban ini? sebelumnya jujur saat masa smp dan sma dan kuliah, penulis selalu rajin menyertakan 10% dari apa yang penulis punya selama 1 bulan / 1 minggu berjalan. bukan dari penghasilan ya karena dilihat usia smp dan sma dan kuliah adalah belum punya pekerjaan yang ada hanyalah uang saku / jajan yang disisihkan untuk persembahan. begitu taatnya dilakukan untuk belajar memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Tuhan latih sedari kecil mau memberikan 10% miliknya dari uang ribuan, puluhan ribu dan Tuhan lambat laun memberikan kepercayaan ke uang ratusan ribu dan jutaan saat penulis menulis ini. sempat penulis mengalami kemrosotan iman, dan kegitan perpuluhan vakum beberapa tahun setelah justru mendapat pekerjaan. karena uang semakin banyak diterima perpuluhan pun semakin besar dan tentunya makin pelit saat akan memberi kepada Tuhan. hal ini lah yang diingatkan ibu pendeta saat itu untuk belajar taat lagi apalagi sekarang akan menjadi keluarga baru dalam Tuhan. ingat ya perpuluhan itu bukan disisakan tetapi disisihkan. setelah perpuluhan hal lain yang menjadi sorotan ibu pendeta membaca kertas tugas kami adalah kewajiban kita menjadi anak untuk berbakti kepada orang tua, dengan memberikan apa dari yang kita hasilkan untuk mereka. bukan hal yang tidak kita lakukan penulis dan pasangan lakukan. karena sudah menjadi rutinitas bulanan kami untuk orang tua, tetapi karena pasanga muda 1nya selain kami yang tidak menuliskan. sehingga ibu pendeta mengingatkan meskipun orangtua sudah kaya raya dan punya penghasilan jauh lebh besar dari kita, kita wajib memberikan sesuatu sebagai balas jasa dan ucapan syukur dan terimakasih karena kita telah ada dan bisa sampai sekarang ini. pasangan muda chinese ini lupa / tidak terpikir / tidak pernah berbuat, penulis juga hanya bisa menerka saja. tapi setidaknya penulis dan pasangan sudah melakukannya, dengan bangga dan hati ayem tidak dikomentari ibu pendeta. belum selesai soal pemberian kepada orang tua, ibu pendeta menekan 1 point lagi yakni pemberian kepada orang tua saat sudah menjadi suami dan istri / pasangan baru haruslah dengan adil. kata adil ini lah yang menjadi cambuk bagi kami. dikira sudah aman dan akan lewat di point ini ternyata ada hal yang perlu dibenarkan oleh ibu pendeta dan ingatkan kepada kami. memberikan kepada orang tua tidak dilihat dari jumlah nominal, tetapi seberapa tulus dan rela hati memberi dengan pantas. adil sama dengan seimbang, penulis dan pasangan menulis dengan jumlah nominal berbeda untuk keluarga besar penulis dan keluarga besar pasangan penulis. hal inilah yang jadi koreksi ibu pendeta, diingatkan untuk memberi harus sama besarnya, sama nominalnya, agar tidak cemburu dan tidak berat sebelah. masuk akal. penulis catat dan belajar untuk melakukannya dengan setia. 1 point lagi terkait pemberian kepada orang tua yang harus dilakukan adalah, jika akan diberikan kepada orang tua perempuan maka suami lah yang memberikan, jika akan diberikan kepada orang tua pria maka istrilah yang memberikannya. hal ini ada baiknya dan benarnya juga, agar hubungan baik dengan mertua tetap terjaga dan rasa saling sayang dan kepedulian dapat tercermin dengan baik melalui keluarga baru ini. hal inilah yang penulis masih menjadi PR besar bagi keluarga baru kami. ntah istri yang lupa, atau tidak mau melakukan hal itu penulis benar-benar tidak tahu. besar harapan istri penulis dapat memahami dan membaca sedikit ulasan apa yang kita berdua pelajari saat waktu lalu menjadi nyata. point yang penulis ingat selanjutnya terkait pemberian kepada keluarga adalah tidak boleh sluman slumun slimpet dalam bahasa jawa yang diajarkan ibu pendeta. semua harus terus terang dalam keluarga, seperti yang pernah diajarkan oleh om penulis yang juga sebagai seorang pendeta. waktu dulu pernah ditawari untuk dibimbing katekisasi serta pendidikan pra nikah serta pernikahan oleh jasa om sendiri. sempat sampai datang ke rumah om dan sudah iya mengangguk dan mau. tetapi kenyataan berjalannya waktu semua berubah karena pihak calon istri. tidak perlu dibahas untuk ini mungkin ada waktunya sendiri suatu saat. sluman slumun slimpet adalah tindakan berlaku curang dengan sedikit sedikit memberi bantuan ke keluarga sendiri tanpa diketahui pasangannya, tindakan ini mungkin seperti egois dan tidak manusiawi tetapi secara pernikahan ini sangat baik manfaatnya, tujuannya untuk keterbukaan. jadi kalaupun ingin memberik ke keluarga nya sendiri harus sepengetahuan pasangannya dan nominalnya pun juga harus disepakati. memang hal yang wajar saat keluarga kita kekurangan dan kita pasti akan merespon untuk membantu, tetapi tidak selalu harus kita bantu karena kita sudah berkeluarga sendiri dan tanggung jawab nya kepada keluarga sendiri dahulu baru keluarga nya. masuk akal seharusnya. karena kita sudah berjanji 2 menjadi 1. tindakan membantu kakak kandung / adik kandung seharusnya juga sudah disepakati dari awal hubungan dan dengan jelas dan gamblang di awal sebelum pernikahan. tidak boleh sedikit sedikit membantu, takutnya apa, keluarga yang kita bantu malah menjadi ketergantungan dan tidak menjadi tanggung jawab amanat tugas tanggung jawabnya memenuhi keluarganya sendiri malah mengandalkan kita yang membantu. seperti membelikan sepatu untuk kakak kandung, seharusnya tidak perlu dilakukan kalaupun akan melakukan harusnya membilang dengan pasangan dengan rencananya tidak bersifat memberitahu yang sudah ada keputusan pasti akan dibelikan sepatu untuk kakaknya, seperti itulah. itu bukan terbuka tetapi terkesan memaksa dan termasuk sluman slumun slimpet tadi. semangat penulis tidak sampai disini, akan terus menulis apa yang penulis rasakan dari waktu ke waktu menjadi catatan kecil dalam sepenggal kehidupan yang fana dari penulis semasa hidup.

kewajiban terkait financial selanjutanya adalah, kewajiban bersifat pokok dan perencanaan kesehatan juga tidak boleh terlewat. apakah asuransi dan dana darurat bagi keluarga. kewajiban pokok misalnya:
pinjaman utang yang harus dilunasi ; kpr, motor, mobil dll
tabungan ; anak pendidikan sekolah, rekreasi, aset dll
operasional bulanan ; biaya makan, biaya listrik, biaya air, biaya pulsa komunikasi dan paket data, asuransi kesehatan dll
entertaiment ; uang suami (hobi), uang istri (hobi)
biaya serivice ; motor, mobil, peralatan rumah, elektronik dll
uang tak terduga ; keluarga ada yang sakit mendadak, kecelakaan kendaraan dll
pertemuan kedua diajarkan untuk saling percaya soal ekonomi dan taat dengan perintah Tuhan yang sudah menjadi kewajibana umat pilihannya.

pertemuan ketiga, bertempat dirumah ibu pendeta lagi dengan kali ini menggunakan kendaraan milik sendiri mobil buntut tahun 83, karena sudah tahu rute tempat tinggal ibu pendeta jadi diputuskan membawa mobil ini selain juga karena kondisi hujan saat itu. tak lupa membawakan oleh oleh untuk ibu pendeta dan ke 2 anaknya yang masih kecil karena sudah ditinggal suami berpulang ke rumah Tuhan. dipertemuan ini kali terakhir bagi kami pasangan yang sdh 3 kali pertemuan dalam sesi katekisasi dan siap dalam hari pernikahan yang dinanti. masih bersama pasangan chinese kaya yang di pertemuan ke-dua tema dan topik kali ini adalah menjadi keluarga yang merdeka dan berdaulat. apa maksudnya keluarga yang hidup dengan pemikiran dan bimbingan Tuhan setiap saat tanpa diikut campuri dengan orang tua pihak manapun. biasanya banyak kasus hubungan bisa hancur karena urusan keluarga dicampur dengan orang tua. makanya tidak baik jika setelah menikah masih hidup bersama orang tua. karena nats alktib pun berkata demikian, tidaklah baik jika seorang suami dan istri masih tinggal bersama orang tuanya, harus meninggalkan mereka untuk hidup sendiri dan mandiri. hal ini juga yang waktu dulu om pendeta menyampaikan hal ini juga, sama dan klop materi yang ibu pendeta bawakan sebagai bahan katekisasi pernikahan ini. anak selalu terpengaruh dengan orang tua, sedikit sedikit ada masalah atau pertimbangan ditanyakan dengan suara orang tua. tidak baik dan tidak benar hal demikian karena lama kelamaan harga diri pasangan suami atau kepala rumah tangga tidak dihargai atau dihormati dan suara suami / pasangan mulai redup dan hilang tergantikan dengan suara orang tua yang terus terdengar. hidupnya seperti boneka yang menunggu instruksi orang tua dan tidak merdeka dan berdaulat atas keputusan keputusan yang harus diambil. hal ini juga terjadi pada penulis ketika akan memilih istri akan ikut merantau atau istri tetap tinggal dirumah. diawal istri memilih akan ikut, tetapi lama kelamaan istri berubah pikiran dan tetap tinggal dengan orang tua. meskipun penulis sudah memiliki rumah untuk berdua tinggal tetapi terlihat istri enggan betah untuk mau tinggal dirumah tersebut dan membina keluarga bersama, tetap pulang kerja dan berkegiatan dirumah dengan orang tua karean ada kebiasaan-kebiasaan yang istri masih belum bisa tinggalkan. pola kerja 3 shift, anak bungsu yang disayang kedua orangtua, apa-apa kebutuhan tinggal teriak minta ke mama / papa seperti, siapkan makan, masakan makanan yang hanya bisa dimakan karena disukai dan yang lainnya tidak makan, siapkan cucian baju, membangunkan tidur dari jadwal kerja, menyiapkan air mandi memasak hingga menumpahkannya ke wadah mandi. semoga suatu saat istri akan membaca dan mulai tersadar akan kehidupan keluarga yang merdeka dan berdaulat. 

penulis cukupkan sampai disini, jika ada yang penulis ingat akan penulis tambahkan didalam nya atau membuat lanjutan katekisasi pernikahan jilid 2 karena ada buku catetan kami saat katekisasi yang masih dirumah. siapa tau ada yang kurang nanti bisa penulis tambahkan, dan juga jika pembaca ada yang setuju dan tidak setuju, sependapat atau tidak sependapat jangan sungkan untuk menuliskan dikolom komentar ya.. gbu see you

1 komentar:

  1. Si penulis juga tidak terbuka, apakah si penulis menceritakan ke si pasangan apa yg dia ketik di sini ?

    BalasHapus

tolong komentarnya yang membangun ya?